PKA-5 Perlihatkan Aceh Aman

Posted by Diposkan oleh Subkiyadi On 8:17 PM


Jumpa pers khusus tentang PKA-5

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar), Ir Jero Wacik, SE (kedua dari kiri) didampingi Wagub Aceh Muhammad Nazar (kiri) dan Gubernur Sulawesi Tenggara (kanan) dalam jumpa pers khusus tentang PKA-5 dan Festival Danu Poso, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (28/7).SERAMBI/FIKAR W.EDA

JAKARTA - Aceh bisa memperlihatkan daerahnya aman dan pantas untuk dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri melalui event Pekan Kebudayaan Aceh (PKA-5) yang berlangsung 2-11 Agustus 2009. Demikian ditegaskan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar), Ir Jero Wacik SE dalam konferensi pers khusus tentang PKA dan Festival Danau Poso, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa (28/7). Hadir bersama menteri, Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar dan Gubernur Sulawesi Tenggara.

Aneka ragam kebudayaan Aceh yang dibungkus dengan baik akan menjadi daya tarik bagi kedatangan para wisatawan ke Aceh. “Dan Aceh bisa memperlihatkan daerahnya sangat aman dengan cara pekan kebudayaan,” ujar Jero Wacik. Menbudpar Jero Wacik juga mengharapkan penyelenggaraan PKA ke-5 dapat mendorong tumbuhnya motivasi dan daya cipta para seniman dan budayawan Aceh serta memperkokoh jatidiri bangsa Indonesia. “Sehingga terwujudnya kedamaian Aceh yang hakiki,” kata menteri berdarah Bali ini.

Ia menegaskan PKA dan event kebudayaan lainnya tidak boleh gagal dilakukan, terlebih setelah adanya tragedi bom Ritz Carlton dan JW Marriot beberapa waktu lalu. “Bagi Indonesia event kebudayaan ini sangat penting artinya,” tukas Menbudpar. Jero Wacik menyatakan Departemennya mendukung penuh pelaksanaan PKA di Aceh dan berjanji akan memobilisasi wartawan dan kalangan media untuk hadir dan menyukseskan publikasi kegiatan budaya lima tahunan tersebut.

Wagub Muhammad Nazar menyatakan, PKA-5 akan diisi dengan berbagai pertunjukan kesenian, atraksi budaya, Aceh Expo, Aceh International Literary Festival, seminar budaya, perminan rakyat dan lain-lain. Dipusatkan di Taman Ratu Safiatuddin Banda Aceh. Kegiatan PKA V yang mengangkat tema “Satukan Langkah, Bangun Aceh dengan Tamadhun” dimaksudkan antara lain untuk meningkatkan peran serta dan apresiasi masyarakat dalam mengaktualisasikan nilai-nilai budaya Aceh yang Islami, melestarikan keragaman budaya dalam memperkokoh kedamaian yang abadi di Aceh, serta meningkatkan peran serta masyarakat sekaligus mempromosikan adat dan produk budaya maupun pariwisata Aceh.

“PKA akan memberi implikasi yang luas dan berantai terhadap perputaran perekonomian, kelangsungan perdamaian, kreativitas seni-budaya dan tampilnya identitas diri rakyat Aceh.Tiap hari diperkirakan akan dikunjungi 50 ribu orang,” jelas Wagub. Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) pertama diselenggarakan tahun 1958, kemudian disusul PKA kedua dan ketiga tahun 1972 dan 1988. Sedangkan PKA keempat diselenggarakan pada 19-28 Agustus 2004. Setelah lima tahun berlalu, PKA kelima akan dilaksanakan pada 2-11 Agustus 2009 yang rencananya akan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Tarian massal
Pembukaan PKA akan dimeriahkan pertunjukan tarian massal yang memperlihatkan keberagaman kesenian di Aceh, menghadirkan 40 penari Saman, 160 pemusik Rapa’i Geleng, 14 penari Tari Guel dikolaborasikan dengan pembacaan puisi, 24 penari Seudati yang diperkuat Syeh Lah Geunta, serta 50 penari Tari Melayu. Pertunjukan itu juga menghadirkan orkestra Rapa’i Uroh serta 30 penari yang mengibarkan bendera negara-negara dunia.

Tari Massal dengan judul “Geunta Raya “(gema yang besar) ditangani dua koreografer muda Aceh, Murtala dan Kaka serta musik oleh Heri Sandy dkk. “Tari ini dikemas dalam sebuah pertunjukkan berdurasi 20 menit, melukiskan kebangkitan kesenian dan kebudayaan Aceh pasca konflik dan tsunami,” ujar Murtala yang pernah mengajar tari Aceh di Australia.

Penari pendukung berasal dari sejumlah sanggar yang ada di Banda Aceh dan Aceh Besar, seperti Sanggar Cut Nyak Dhien, Buana, Nurul Alam, Chit Ka Geunta, Mahasiswa Aceh Barat Daya, Rampoe, Kepies Ijo, Keluarga Negeri Antara, Fakultas Hukum Unsyiah, Man Model, Cakra Mata dan mahasiswa FKIP Unsyiah.

Secara terpisah, refresentatif Panitia PKA, Mustafa Ismail mengatakan, bersamaan dengan itu juga digelar “Aceh International Literary Festival” (AILFest) sebuah festival sastra yang melibatkan lebih dari 30 sastrawan Aceh, luar Aceh dan luar negeri. “Ada Austria, Jerman, Australia dan Italia, serta kawan-kawan penyair Nusantara dan Aceh,” katanya. Para penyair itu akan baca puisi di atas perahu di Krueng Aceh pada 5 Agustus pkl 16.00-18.00 WIB dan Pinto Khob pada 6 Agustus, pkl 20.00 WIB - 22.30 WIB.(fik)


0 komentar

Post a Comment